Minggu, 11 Maret 2012

Kenyataan Buat Tari

                                                                                                                                                                          “Udah lama Ka nunggu aku?“ tanyaku yang baru saja sampai di halte tempat bus yang akan membawa aku dan Dika ke kampus.
“Gak juga Rin. Yuk kita naik, tuh bisnya udah hampir penuh.” jawab Dika dengan senyuman.

Kami duduk di kursi paling depan yang masih kosong. Dika adalah teman sahabatku Novita yang beberapa hari lalu kami bertemu di salah satu warnet dekat rumahku. Novita mengenalkan dia ke aku. Ternyata aku dan Dika satu kelas . Dari sanalah aku bisa langsung akrab dan mulai menjalin persahabatan . Meskipun baru bersahabat, aku dan Dika sudah seperti sahabat yang telah lama saling mengenal. Setiap hari kami pergi dan pulang kuliah selalu bersama-sama. Belajar dan mengerjakan tugas  juga bersama. Sampai-sampai ada teman kami yang menyangka kalau kami pacaran. Padahal itu salah besar. Dika baik dan perhatian dengan aku hanya sebatas sahabat dan aku juga begitu.
“Rin, ntar pulangnya aku tunggu di tempat biasa ya.” kata Dika kepadaku setelah bus sudah sampai di kampus.
“Oke Ka.” jawabku singkat dengan anggukan kepala.

Sesampainya di depan pintu ruang kuliah, Dika langsung masuk dan aku masih tetap di depan karena dari kejauhan aku melihat sahabatku Fitri melambaikan tangan.
“Ehem...ehem...Tetap kompak ya dengan sahabat spesial,hehe...” cerocos Fitri.

Pasti tadi dia melihat aku dengan Dika.
“Eh… Apaan sih Fit maksudnya?”  tanyaku pura-pura tidak mengerti.
“Udah ah, gak penting. Yuk kita masuk aja.” jawab Fitri yang langsung menyeret tanganku.
Dengan serius aku memperhatikan angka demi angka dan kata demi kata yang dijelaskan dosen. Sesekali beliau menunjuk salah satu dari kami untuk menjawab pertanyaannya. Terlihat mahasiswa yang lain sangat serius sama seperti aku. Mungkin mata kuliah ini sudah menjadi kesukaan hampir seluruh mahasiswa akuntansi disini.
***

“Duhh…Panas banget.” keluh Novita sahabatku yang beda jurusan denganku.

Aku baru saja keluar dari ruang kuliah. Kulihat jam di handphoneku pukul 3 sore. Hari ini aku memang ada mata kuliah umum sampai sore.
“Dika nunggu dimana Rin?” tanya Novita.
“Di musholla Nov,kita langsung kesana yuk sekalian shalat ashar.” jawabku.

Aku dan Dika beda hari untuk mata kuliah umum. Namun, dia tetap mau menunggu aku untuk pulang bersama. Dika memang sahabat yang baik. Di musholla, kami langsung ambil air wudhu dan shalat ashar.
*Drrt….

Handphoneku bergetar ada sms masuk dari Dika.
‘Rin…udh shltnya? Aku tnggu di bwah ya...’
Dika sms aku dan langsung kubalas.
‘Ya udh kok  Ka, Tnggu ya…’

Aku melambaikan tangan dengan  Novita dari jendela bus. Novita tidak pulang bersama kami karena memang tempat tinggalnya tidak satu arah dengann kami.

Rasanya mengantuk setelah seharian di kampus. Ingin tidur deh di bus ini, tapi tidak enak dengan Dika yang udah nunggu aku, jadi tidak enak mau ninggalin dia tidur. Aku berusaha untuk melawan rasa kantukku.
“Capek ya Rin?” tanya Dika yang sedari tadi hanya diam.
“Lumayan. Keliatan ya Ka kalau ku capek? Hehe…”jawabku dengan senyum.
“Tidur aja kalau gitu Rin. Kalau udah sampai ntar aku bangunin.” ujar Dika penuh perhatian.

Aku hanya menganggukkan kepala dan mulai bersandar di kursi bus yang cukup nyaman ini.
***

Beberapa hari ini aku merasakan sesuatu hal yang cukup aneh. Perasaan yang selalu ingin dekat dengan Dika, selalu ingin sms dan telpon dia. Bahkan aku ingin ia selalu nungguin aku pulang kuliah. Aku tidak mau kehilangan dia. Saat aku jelaskan ke Dika, ternyata dia juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Maka dari itu, kami menjadi makin dekat. Persahabatan kami sangat indah dan aku bahagia memiliki sahabat sebaik Dika. Tidak kalah baiknya dengan Novita dan Fitri sahabatku juga.

Setiap hari banyak cerita yang kami bicarakan, mulai dari mata kuliah sampai hal pribadi. Dika pernah menceritakan kalau saat ini dia punya pacar tapi mereka berjauhan. Pacarnya tinggal di kota lain. Aku khawatir suatu saat pacarnya Dika tahu kalau kami sangat dekat walau dekatnya kami hanya sebatas sahabat, Namun kekhawatiran aku sirna saat Dika pernah bilang kalau pacarnya tidak keberatan kalau aku dekat dengan dia.
“Dia gak marah kok Rin,kan dia ngerti kalau kita hanya sahabatan aja.” ujar Dika serius.
“Alhamdulillah Ka kalau gitu” balasku dengan senyuman.
“Kamu juga harus cari pacar donk Tarin, biar kapan-kapan kita bias saling mengenalkan pasangan masing-masing,hehe…” kata Dika sambil mengacak rambutku.
“Aku gak mau ah punya pacar, kan udah ada kamu Ka.” candaku sambil membalas mengacak rambutnya juga dan aku langsung berlari menjauh.
“Tunggu donk Tarin…!” teriak Dika.
***

‘Aq mnyesal shbtn dgn kmu Rin,gak da trma ksh.’

Pesan singkat dari Dika satu menit yang lalu sangat meresahkan hatiku. Aku tidak menyangka dia akan bilang begitu. Padahal penyebabnya sangat sepele, Dika marah saat dia ketemu aku yang lagi jalan dengan teman laki-laki. Sebenarnya aku pergi ramai-ramai dengan teman-teman SMA ku dulu. Namun kebetulan saat Dika lihat aku, aku lagi ngobrol berdua dan akhirnya Dika jadi salah paham.
“Enak ya bisa jalan dengan cowok dan gonta ganti. Setelah aku dan cowok tadi siapa lagi yang akan jalan dengan kamu?” kata Dika dengan wajah dingin.
“Kamu kenapa sih Ka,kok bilang ngelantur gini? Jaga omongan kamu!” balasku dengan emosi.

Dika langsung pergi begitu saja meninggalkan aku yang bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.
Aku kesal dan sedih dengan perkataan Dika beberapa jam yang lalu. Sampai saat ini percakapan kami di jalan tadi terngiang-ngiang di telingaku. Aku berpikir lebih baik aku sms untuk  minta maaf saja ke dia karena aku tidak mau persahabatan kami hancur gara-gara hal yang kurang jelas seperti ini. Namun aku sangat tidak menyangka Dika akan membalas sms aku seperti tadi.
***

Dua minggu sudah aku dan Dika tidak bertegur sapa, dia marah sekali dengan aku. Aku bingung dan menuruti saja keinginan dia untuk tidak saling teguran. Teman-teman kami yang lain terheran-heran melihat aku dan Dika seperti ini. Kami tidak  pernah lagi terlihat bersama akhir-akhir ini.

Seusai kuliah aku, Nita dan Fitri langsung menuju ke kantin dan memesan minuman. Cuaca siang ini sangat terik sehingga membuat kami kehausan..Di kantin kami bertemu dengan Novita dan langsung saja kami ambil tempat bersama-sama. Tiba-tiba saja aku tercengang karena Dika sudah duduk di sampingku.
“Rin, aku minta maaf ya atas kejadian kemarin-kemarin. Kita baikan dan sahabatan lagi ya. Kamu mau kan?” kata Dika lembut sambil menatapku.

Sungguh aku tidak percaya degan sikap Dika yang ti.ba-tiba jadi begini. Dika yang kemarin begitu emosian dan marah ehh malah sekarang minta maaf duluan.
“Iya Dika. Aku juga minta maaf ya.” balasku yang masih bingung, Namun aku bahagia.
“Cie…cie…udah baikan nih. Ayo traktir kami donk Ka.” Ujar Nita dengan mengerlingkan mata yang dibalas Dika dengan wajah cemberut.
“Hahaha…” aku, Novita dan Fitri tertawa yang akhirnya Dika dan Nita pun ikut tertawa.
Oh senangnya hatiku saat ini. Persahabatan kami kembali lagi. Aku begitu sedih saat harus musuhan dengan Dika. Namun sekarang kami baikan dan aku membayangkan hari esok akan kembali berwarna dan cerah. Secerah mentari pagi.
***

Ujian semester sudah selesai. Aku dan teman-teman satu organisasi mengadakan liburan ke luar kota. Kami sangat menikmati liburan kali ini, apalagi Fitri dan Novita ikut juga jadi tambah seru bisa pergi bersama sahabat dekat. Satu minggu lamanya kami berada disana. Bukan hanya liburan namun kami juga mendapat banyak pengetahuan dan ilmu baru. Selain itu kami juga bisa lebih mengenal dan lebih dekat dengan teman-teman yang lain juga kakak tingkat yang sebelumnya dikenal cuek dan mau marah-marah saja ternyata mereka sangat baik dan bersahabat.
Satu kenangan yang membuat aku juga bahagia ketika saat liburan, aku menjadi dekat dengan seorang cowok yang selama ini aku belum terlalu mengenal dia dan kami hanya bertemu jika ada rapat atau acara di organisasi saja. Namun entah kenapa liburan ini menjadikan kami begitu dekat dan akhirnya saat pulang dari liburan dia menyatakan cinta. Aku terima saja karena memang aku juga suka dia. Raka adalah cowok pertama yang berhasil mencuri hatiku dan sekaligus pacar pertamaku. Akhirnya dengan dia lah aku berani untuk pacaran. Fitri, Novita dan Nita pun sudah setuju dengan hubungan kami. Hal atau tindakan yang akan aku lakukan kebanyakan selalu minta pendapat dari sahabat-sahabatku, dengan begitu akan terasa nyaman dan lebih tenang.

Satu lagi sahabatku yang belum tahu kalau aku sekarang sudah memiliki pacar. Dika,  pasti dia akan terkejut karena cepat sekali dan tanpa cerita-cerita dulu ke dia. Namun yang pasti dia juga akan turut bahagia karena dari dulu dia yang paling cerewet menyuruhku untuk punya pacar.
“Ka, kamu setuju kan?” tanyaku dengan wajah ceria setelah panjang lebar aku bercerita tentang bagaimana aku bisa jadian dengan Raka.
“Terserah Rin.” jawab Dika singkat dan seperti tidak bersemangat. Padahal aku sudah semangat 45 menceritakan semuanya dengan Dika.
“Ya udah deh. Tapi kok kenapa kamu seperti lagi gak bersemangat gini Ka?” tanyaku lagi.
“Tarin, aku pulang dulu ya. Udah ada janji dengan temanku.” kata Dika tanpa menjawab pertanyaan aku tadi. Dia langsung beranjak keluar . Aku jadi terheran-heran dengan sikap dia yag tak seperti biasanya.Dasar Dika suka aneh-aneh dan sering buat bingung.
***

Dika berubah 180 derajat. Tiba-tiba dia memutuskan persahabatannya dengan aku.
“Sekarang kamu udah punya pacar Rin. Aku gak mau ntar timbul salah paham kalau aku tetap dekat dan sahabatan dengan kamu. Kita jadi teman biasa aja ya mulai sekarang.”

Aku teringat kata-kata Dika kemarin. Aku maklum dengan alasan dia tapi apakah harus putus bersahabat? Aku jadi makin bingung.
Ah…Masa bodoh deh. Jangan terlalu dipikirin, Dika memang selalu buat aku bingung. Lagian sahabat aku bukan hanya dia dan sekarang aku sudah punya orang yang akan menggantikan untuk memberikan perhatian khusus ke aku, Raka.
***

Matahari sudah menyelinap dibalik awan. Mungkin sudah kelelahan menyinari seluruh bumi. Oleh karena itu, cuaca siang ini tidak panas seperti biasanya. Sepertinya sebentar lagi Matahari akan benar-benar menghilang dan digantikan awan hitam yang sudah siap untuk menurunkan hujan ke bumi.
“Tarin, pulang yuk. Sepertinya mau hujan deras.” kata Raka yang tiba-tiba sudah ada di depanku dengan senyumannya yang paling aku sukai.
“Fit, Nov, aku duluan ya.” kataku pamit dengan Fitri dan Novita yang sedari tadi kami mengobrol di depan ruang kuliah.
“Hati-hati Rin pulang dengan Raka ntar diculiknya loh,hehe…”kata novita bercanda
“Jaga Tarin baik-baik ya Raka, awas kalau sampai sahabat kami kenapa-kenapa.” sambung Fitri dengan lirikan mata nakal.
“Iya iya. Tenang aja kalian semua. Aku siap menjaga putri Tarin.” balas Raka sambil memandangku.

Aku hanya tertawa melihat tingkah mereka. Kemudian aku dan Raka langsung menuju terminal kampus. Raka memegang tanganku setelah kami sudah berada dalam bus untuk pulang.

Raka memandangiku terus.
“Kenapa?” tanyaku heran
“Aku sayang kamu Tarin.” jawab Raka serius sambil tersenyum.

Suka banget deh dengan senyuman Raka. Manis dan buat aku teringat dia terus. Mungkin senyuman Raka lah yang buat aku bisa menerima dia untuk jadi pacarku.
“Aku juga Raka.” kataku menanggapi pernyataan Raka.
***

Satu bulan kemudian, hubunganku dengan Raka berakhir . Mungkin sudah takdirnya kalau kisahku dengan Raka akan berakhir sesingkat ini sama halnya dengan kedekatanku pada Dika dulu. Raka  mengakhiri hubungan kami dengan alasan kalau sikap aku ke dia seperti tidak mencintai dan sayang dengan dia. Aku bingung, hal yang sangat aneh untuk dijadikan sebagai alasan. Tapi aku hanya pasrah. Pasti ini jalan terbaik yang diberikan Allah untukku.

“Sabar ya Rin. Walau kamu sudah kehilangan Raka kan masih ada kami bertiga.yang akan selalu ada untuk kamu Tarin.” hibur Novita yang diiyakan Fitri dan Nita saat aku curhat dengan mereka.
“Terima kasih sahabatku.” balasku ke mereka dan kami berempat saling berpelukan.
        ***
Kupandangi langit malam ini. Bulan tidak terlihat namun bintang begitu banyak bertebaran di atas langit malam yang agak gelap. Bintang-bintang membuat langit sedikit terang dan menjadikannya sangat indah. Bintang-bintang itu seolah menari-nari dan tersenyum kepadaku.
Mulai besok aku akan menjalani hari-hari kuliahku sama seperti pertama kali aku masuk kuliah. Tanpa seorang sahabat seperti Dika dan tanpa seorang pacar seperti Raka. Biarlah mereka berdua jauh dari hidupku dan hanya menjadi kenangan indah  yang sempat mewarnai hariku.
Besok dan hari-hari selanjutnya akan aku jalani bersama ketiga sahabatku saja yang benar-benar akan setia, baik dalam suka maupun duka. Aku harus tegar dan harus percaya bahwa kenyataan ini merupakan anugerah buatku. Suatu saat cinta sejati itu pasti akan datang, namun belum untuk saat ini.
“Aku berjumpa dengan Dika dan sekarang aku sudah tidak dekat lagi dengan dia. Satu bulan yang lalu Raka hadir di hidupku dan hatiku. Akan tetapi kemarin dia sudah berlalu dari  kehidupanku. Cukuplah aku kehilangan mereka berdua ya Allah…Namun jangan kau pisahkan aku dari sahabatku, Novita, Fitri dan Nita.Amiin…” doaku dalam hati.

Kenyataan yang sebenarnya tidak kita harapkan sangatlah pahit rasanya. Namun bagaimanapun kenyataan pahit tersebut harus kita hadapi, karena di penghujung terakhir kenyataan itu akan ada anugerah terindah buat kita yang mau bersabar… ^_^

Kamis, 23 Februari 2012

Bulan di Ujung Senja

Penulis : Susana Srini
Penerbit : Great! Publisher
Kategori Buku : Novel
Tahun Terbit : 2012
ISBN : 978-602-8696-47
Ukuran : 13 x 18 cm
Tebal : 304 halaman
Harga : Rp 40.000,-
Discount : 20%
Discount Member : 30%
Harga Diskon : Rp 32.000,-
Sinopsis : Sangat menghanyutkan. Pergumulan batin seorang perempuan yang mencari jati diri dalam kehidupan serta pilihan hidup yang harus diambil. Pengalaman penulis selama melayani masyarakat Papua menambah eksotisme dan kedalaman novel ini.
-Hendro Suwito, Penulis dan Pekerja Sosial-

Susana Srini, penulis baru tapi sudah bertutur lugas dan berani dalam buku pertamanya, Bulan di Ujung Senja. Caranya melukiskan konflik amat bersahaja dan bikin penasaran.
-Ita Sembiring, Novelis-

Bagi yang mengenal pedalaman Papua melalui teks-teks lain, novel ini akan  mengubah stereotip negatif yang selama ini terekam. Sedangkan bagi yang baru berkenalan dengan pedalaman Papua, novel ini menjadi kisah yang sangat menginspirasi.
-Sepi Kokoya, Mahasiswa dan Putra Dani-

Perjumpaan Larasati dengan orang-orang di tanah Papua, dengan Hilman seorang dokter idealis yang telah bertahun-tahun mengabdi di tanah itu, juga dengan Kèndy dan Karuni anak tetangga yang kini menjadi sahabat karibnya, sedikit demi sedikit membangunkannya dari tidur panjang.
Larasati sadar, titik hidupnya telah menjadi sebuah koma. Hidup yang sesungguhnya harus dilanjutkan dan harus dipilih jalan seperti apa yang akan dilaluinya. Di atas bukit Jayawijaya itu ia merenungi pilihan hidupnya. Bulan yang selama ini hanya berdiri di ujung senja, akankah terbit menjadi malam, atau terus sembunyi di balik terangnya matahari.
Bahkan senja di Islamabad pun tak jauh berbeda. Larasati tetap diam seperti pecundang yang sembunyi di balik Bulan dan bimbang untuk menemui Jan, sosok yang selama ini menjadi tujuan hidupnya. Ya, di mana pun Bulan memang selalu sama. Hanya Larasati yang bisa membuatnya berbeda, apakah bulan itu harus membiaskan sinarnya yang lembut di malam hari, atau terus bersembunyi.

Sabtu, 29 Oktober 2011

MY DREAM IN MY LIVE

I dream high I dream a dream
When it's tough, I close my eyes and
The moment my dream comes true
continue to recall and get up
at the end of fear today too I tremble
Like a baby bird, would it fall, unable to fly
repeatedly I can do it, can my dream come true
every time I'm fearful, my belief walking step by step again

I dream high I dream a dream
When it's tough, I close my eyes and
The moment my dream comes true
continue to recall and get up

I believe I can fly high
one day me above the sky
wings stretched out, more free than anyone else
flying rising high
I need bravery to overcome
firstly pick myself up rise again and dare to run
once again believe in me and my destiny

climb over every wall taller than me
I dream high I dream a dream
When it's tough, I close my eyes and
The moment my dream comes true
continue to recall and get up
I believe I can fly high

one day me above the sky
wings stretched out, more free than anyone else
flying rising high
Dream high a chance to fly high
Now bye bye to all that hurts

try flying high like the stars in the sky
your dream will unfold
starting from now
don't be afraid of the future made by your hands
now walk totally confident

unstoppable destiny is destiny
now we soar up high
for you, this whole new fantasy
so from now, take my hand here
from now on, our aim
one dream and not give up
youthful passion all here dream high

I dream high I dream a dream
When it's tough, I close my eyes and
The moment my dream comes true
continue to recall and get up

I believe I can fly high
one day me above the sky
wings stretched out, more free than anyone else
flying rising high

Jumat, 30 September 2011

mimpi-mimpi lintang

                                                        Maryamah Karpov-Mimpi-mimpi Lintang
Buku keempat dari tetralogi laskar pelangi
'Jika dulu aku tak menegakkan sumpah untuk sekolah setinggi-tingginya demi martabat ayahku, aku dapat melihat diriku dengan terang sore ini: sedang berdiri dengan tubuh hitam kumal, yang kelihatan hanya mataku, memegang sekop menghadapi gunungan timah, mengumpulkan nafas, menghela tenaga, mencedokinya dari pukul delapan pagi sampai magrib, menggantikan tugas ayahku, yang dulu menggantikan tugas ayahnya. Aku menolak semua itu! Aku menolak perlakuan buruk nasib kepada ayahku dan kepada kaumku. Kini Tuhan telah memeluk mimpiku. Atas nama harkat kaumku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku saat nasib membuktikan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak kepada para pemberani.'

Keberanian dan keteguhan hati telah membawa ikal pada banyak tempat dan peristiwa. Sudut-sudut dunia telah dia kunjungi demi menemukan A Ling. Apa pun ikal lakukan demi perempuan itu. Keberaniannya ditantang ketika tanda-tanda keberadaan A Ling tampak. Dia tetap mencari, meski tanda-tanda itu masih samar. Dapatkah keduanya bertemu kembali? Novel ini menceritakan semua hal tentang Laskar Pelangi, A Ling, Arai, Lintang, dan beberapa tokoh dalam cerita sebelumnya. Tetap dengan sihir kata- katanya, Anda akan dibawa Andrea pada kisah yang menakjubkan sekaligus mengharukan.

Spesifikasi Buku
Penerbit : Bentang
Pengarang : Andrea Hirata
Kelompok : Novel
Bahasa : Indonesia

Kamis, 15 September 2011

Surat Kecil Untuk Tuhan

Surat kecil untuk
Tuhan, surat terakhir gadis remaja penderita kanker ganas
harga rp :35000inandra published




Tuhan ..

Andai aku bisa kembali..

Aku tidak ingin ada tangisan di dunia ini.

Tuhan ..

Andai aku bisa kembali

Aku tidak ingin ada hal yang sama terjadi padaku ,terjadi pada siapapun.



Cuplikan itu menjadi sedikit bait
dari sebuah tulisan yang ditulis seorang remaja penderita kanker Rabdomiosarkoma
atau kanker
jaringan lunak. Sebuah kanker ganas yang menyerang pada bagian wajah seorang
gadis remaja bernama Gita Sesa Wanda Cantika. Umurnya
masih 13 tahun saat dokter mengatakan kepada ayahnya bahwa putrinya hanya dapat
bertahan selama 5 hari bila tidak melakukan operasi segera.

Hati ayah mana yang tidak hancur ketika tau jalannya
operasi itu harus membuat sang putri kehilangan sebagian wajahnya. Sedangkan
sang putri mulai bertanya mengapa diwajahnya mulai tumbuh gumpalan sebesar buah
kelapa. Tak ingin melukai hati anaknya, sang ayah berserta keluarga
merahasiakan kanker itu pada Keke, panggilan gadis remaja aktif dengan sejuta
prestasi
model dan tarik suara.  Namun perlahan
Keke mulai menyadari dirinya bukan sakit biasa, ia sadar hidupnya tak mungkin
akan bertahan lama dengan pandangan mata yang mulai buta oleh kanker.

Walau akhirnya ia tau ia terserang kanker ganas, ia
pasrah dan tidak marah pada siapapun yang merahasiakan penyakit maut itu
padanya. Ia memberikan senyum kepada siapapun dan menunjukkan perjuangannya
bahwa dengan kanker diwajahnya ia masih mampu berprestasi dan hidup normal di
bangku sekolah. Tuhan menunjukkan kebesaran hati dengan memberikan nafas
panjang padanya untuk lepas dari kanker itu sesaat.

Perjuangan Keke melawan kanker membuahkan hasil, Kebesaran
Tuhan membuatnya dapat bersama dengan keluarga serta sahabat yang ia cintai
lebih lama. Keberhasilan Dokter Indonesia menyembuhkan kasus kanker yang baru
pertama kali terjadi pada putri Indonesia ini menjadi prestasi yang
membanggakan sekaligus membuat semua Dokter di Dunia bertanya-tanya.

Namun kanker itu kembali setelah sebuah pesta
kebahagiaan sesaat, Keke sadar nafasnya di dunia ini semakin sempit. Ia tidak
marah pada Tuhan, ia bersyukur mendapatkan sebuah kesempatan untuk bernafas
lebih lama dari vonis 5 hari bertahan hingga 3 tahun lamanya. Dokter menyerah
terhadap kankernya, di nafasnya terakhir ia menuliskan sebuah surat kecil
kepada Tuhan. Surat yang penuh dengan kebesaran
hati remaja Indonesia yang berharap tidak ada air mata lagi di dunia ini
terjadi padanya, terjadi pada siapapun.

Nafasnya telah berakhir 25 desember 2006 tepat
setelah ia menjalankan ibadah puasa dan idul fitri terakhir
bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya, namun kisahnya menjadi abadi. Ribuan
air mata berjatuhan ketika biografi pertamanya dikeluarkan secara online. Pesan
Keke terhadap dunia berhasil menyadarkan bahwa segala cobaan yang diberikan
Tuhan
adalah sebuah keharusan yang harus dijalankan dengan rasa syukur dan beriman.

Jumat, 09 September 2011

Harry Potter 7

Judul Resensi : Kisah Harry Potter dan Pangeran Kegelapan
Judul Novel : Harry Potter and The Deathly Hallows
( Harry Potter dan Relukui Kematian )
Nama Penulis : Joanne Kathleen Rowling
Alih Bahasa : Listiani Srisanti
Tahun Terbit : 2008
Nama Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 999 Halaman
ISBN -10 : 979-22-3349-0
ISBN -13 : 978-979-22-3349-0

RESENSI NOVEL (Harry Potter 7)

Judul Resensi : Kisah Harry Potter dan Pangeran Kegelapan
Judul Novel : Harry Potter and The Deathly Hallows
( Harry Potter dan Relukui Kematian )
Nama Penulis : Joanne Kathleen Rowling
Alih Bahasa : Listiani Srisanti
Tahun Terbit : 2008
Nama Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 999 Halaman
ISBN -10 : 979-22-3349-0
ISBN -13 : 978-979-22-3349-0
Membaca merupakan suatu kegiatan yang mengasyikan bagi sebagian orang tertentu malahan membaca dijadikan sebagai suatu kebutuhan. Namun bagi beberapa orang membaca merupakan kegiatan yang membosankan. Tetapi hal ini berbeda jika kita lihat dari pembaca novel best seller ini. Pembacanya tidak merasa bosan hingga menyelesaikan novel setebal 999 halaman. Ternyata kemauan dan minat pembaca tidak seburuk yang kita duga, saat ini diperkirakan terjadi krisis motivasi membaca di kalangan masyarkat, orang-orang lebih suka menonton atau namun tidak untuk novel yang satu ini.
Penulis buku ini adalah seorang ibu rumah tangga yang telah melahirkan berbagai buku best seller. Ketujuh novel berserinya mendapat berbagi macam penghargaan dari berbagai negara, sehinga terbitnya novel terakhir ini sangat dinantikan oleh para pencintanya. Novel karya penulis yang jenius ini telah dialihbahahasakan dalam 56 bahasa di seluruh dunia.
Harry Potter seorang penyihir muda yang merupakan tokoh utama yang berjuang untuk menghadapi musuh besarnya Lord Voldemort / Pangeran Kegelapan (seorang penyihir jahat yang sangat kejam dan ia telah membunuh kedua orang tua Harry). Kau-Tahu-Siapa yang merupakan sapaan khusus untuk Lord Voldemort, penyihir hitam tersebut telah bangkit kembali dan hendak membunuhnya serta mengusai dunia sihir. Setelah Kementrian sihir jatuh ke tangan musuh besarnya Harry pun harus hiudp dalam pelarian. Ia hidup dan terus menerus bersembunyi hingga menemukan cara untuk mengatasi masalah ini. Harry di beri tugas oleh Kepala Sekolahnya Albus Dombledore yang telah tiada untuk mencari ketujuh Horuc yang merupakan kunci kematian Lord Voldemort. Ada ramalan yang mengatakan bahwa tidak ada yang bisa hidup diantara keduanya, karena keduanya harus saling membunuh satu sama lain. Di mulailah pencarian Harry bersama kedua sahabatnya Ron Weasly dan Hermonie Granger untuk menemukan rahasia yang dimaksud untuk menyelamatkan dunia sihir. Petualangan yang menakjubkan dan fantasis yang mereka alami, dari suka duka, letihnya dalam pelarian yang terus di buru oleh para Pelahap Maut yang merupakan kaki tangan Voldemort, serta misteri-misteri lain yang belum terpecahkan, mengenai apa rahasia di balik Tongkat Sihir Elder, Kematian Ariana, dan kisah misterius Albus Dombledore yang berliku serta kisah relikui kematian antara Harry Potter dan musuh besarnya Lord Voldemort.

Penulis mampu menceritakan kisah ini dengan jenius, menarik, unik dan sangat mengesankan. Dari kata-kata demi kata yang benar-benar mampu membimbing kita untuk merasakan dunia yang ia ciptakan hingga kita mampu terjun dan masuk ke dalam dunia fantasi yang di paparkan penulis.
Dari segi terjemahan novel ini sudah memiliki kwalitas yang baik, saat membaca kita tidak merasakan kesulitan karena sudah sesuai dengan Bahasa Indonesia, kita bias memahami maksud dan tujuan penulis. Selanjutnya mengenai kemasan novel ini sudah di adaptasikan dengan menarik, dari gambaran ilustrator yang melukiskan tokoh utama di cover depan dengan warna kuning genteng yang dipadukan dengan warna hitam yang apik. Novel dengan 2 jenis cetakan ini yaitu hard cover dan soft cover, memang sangat dinantyi-nantikan di kalangan pencintanya sejak sebelum hari penerbitan sudah banyak orang yang memesan jauh-jauh hari karena takut ketinggalan seri terakhir novel best seller ini.
Novel ini cocok bagi anak-anak maupun dewasa, semua kalangan yang memiliki hobi membaca dan ketertarikan pada sebuah narasi yang benar-benar fantasis dan mengagumkan. Tetapi, jika kita tidak pernah dan tidak mengetahui cerita atau daris eri terdahulunya terkadang kita tidak bisa untuk memahami maksud dan tujuan apa yang disajikan oleh penulis, karena banyak terdapat kata-kata maupun istilah yang ditulis penulis tidak kita pahami atau kita ketahui. Jadi, seseorang akan memdapat kesulitan jika tidak membaca edisi sebelumnya. Belum lagi tebalnya halaman yang menjadi faktor untuk membuat rasa enggan bagi pembaca yang baru mau memulai membaca. Tetapi, jika kita telah membacanya ada dorongan dari dalam diri untuk membacanya hingga selesai karena ketertarikan dengan akhir dan bagiamana cerita selanjutnya dan bagaimana kisah perjalanan mengesankan penyihir muda ini.